{"id":249,"date":"2022-12-06T13:02:57","date_gmt":"2022-12-06T06:02:57","guid":{"rendered":"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/?p=249"},"modified":"2022-12-06T13:03:12","modified_gmt":"2022-12-06T06:03:12","slug":"dari-sampah-jadi-berkah-belajar-langsung-dari-ahlinya-sistem-pertanian-berlanjut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/index.php\/2022\/12\/06\/dari-sampah-jadi-berkah-belajar-langsung-dari-ahlinya-sistem-pertanian-berlanjut\/","title":{"rendered":"DARI SAMPAH JADI BERKAH : BELAJAR LANGSUNG DARI AHLINYA SISTEM PERTANIAN BERLANJUT"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan kurikulum menjadi Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Program Studi Agribisnis Fakukultas Pertanian Universitas Katolik Widya Karya (UKWK) mengajak mahasiswa belajar dari berbagai sektor. Di hari senin tanggal 5 Desember 2022, mahasiswa diajak bertandang langsung ke salah satu pakar yang bergerak di sistem pertanian berlanjut yakni Rumah Alam Jaya Organik, Sukun, Malang. <img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-251 alignleft\" src=\"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/konpertanian-2-300x176.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"176\" srcset=\"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/konpertanian-2-300x176.jpg 300w, https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/konpertanian-2-360x211.jpg 360w, https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/konpertanian-2.jpg 376w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bersama Pak Adam yang notabene adalah pemilik Rumah Alam Jaya,\u00a0 mahasiswa dikenalkan budidaya cacing sebagai cikal bakal berdirinya CV ini dan berkembang ke budidaya lainnya, yakni budidaya ubi jalar, cabe, dan kacang tanah. Pak Adam masih bercita-cita mengembangkan sistem pertanian secara terpadu dalam pengelolaan lahannya. Pak Adam akan mengembangkan budidaya ikan melalui bioflok dan budidaya kambing, serta berencana membuka rumah edukasi sistem pertanian secara terpadu.<img decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-252 alignright\" src=\"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/konpertanian-3-300x176.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"176\" srcset=\"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/konpertanian-3-300x176.jpg 300w, https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/konpertanian-3-360x211.jpg 360w, https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/konpertanian-3.jpg 376w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sistem Pertanian Berlanjut yang terpadu ini, mahasiswa belajar mengenai pengelolaan sumber daya yang ramah lingkungan. Lebih lanjut menegaskan, melalui budidaya cacing ini memberikan peluang sangat besar dengan modal yang relatif kecil. Dimana, cacing mengonsumsi sampah organik yang telah terfermentasi baik dari makanan sisa konsumsi manusia dan seresah aneka tanaman, sehingga hampir tidak ada sampah terbuang atau <em>zero waste<\/em>. Pak Adam mampu panen cacing hingga 20 ton tiap bulannya dengan harga cacing segar berkisar dua puluh ribu per kilonya. Di Rumah Alam Jaya ini juga mengenalkan berbagai produk olahan cacing yang nantinya dapat digunakan sebagai tambahan nutrisi ternak dan bahan baku industri obat-obatan dan kosmetik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perubahan kurikulum menjadi Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Program Studi Agribisnis Fakukultas Pertanian Universitas Katolik Widya Karya (UKWK) mengajak mahasiswa belajar dari berbagai sektor. Di hari senin tanggal 5 Desember 2022, mahasiswa diajak bertandang langsung ke salah satu pakar <a href=\"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/index.php\/2022\/12\/06\/dari-sampah-jadi-berkah-belajar-langsung-dari-ahlinya-sistem-pertanian-berlanjut\/\" class=\"read-more\">Read More &#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":250,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_coblocks_attr":"","_coblocks_dimensions":"","_coblocks_responsive_height":"","_coblocks_accordion_ie_support":"","footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-249","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-beritaakademik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/249","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=249"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/249\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":253,"href":"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/249\/revisions\/253"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/250"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=249"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=249"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pertanian.widyakarya.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=249"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}